Tips on Living in Australia

Membidik Peluang Kerja di Australia (1)

Bekerja di Australia? Disampaikan secara langsung atau dipendam dalam hati, nyatanya banyak yang menginginkannya. Maklum, sebagai salah satu negara yang perekonomiannya maju, bekerja di Australia dianggap menghadirkan pemasukan yang besar. Selain itu, dengan sistem jaminan sosial yang relatif baik, hidup di Australia menjanjikan tingkat stress yang lebih sedikit. Nah, bagi mereka yang bercita-cita bekerja di Australia, Asosiasi Mahasiswa Indonesia di Queensland University of Technology (ISAQ) menggelar diskusi bertajuk “Career Development in Australia: Opportunities and Challenges”, Sabtu, 6 Oktober 2018. Acara di Ruang 301 blok Z itu menghadirkan Agus Hariyanto (operation mine planning manager di Thiess) dan Noel Pranoto (superintendent mine geology di BHP) sebagai nara sumber. Berikut beberapa poin yang mereka sampaikan:

Foto: Agung Wahyudi.
Agus (kiri) dan Noel memaparkan kiat-kiat mendapatkan pekerjaan di Australia dalam sebuah diskusi di QUT, 6 Oktober 2018.

Segera Masuk Saat Bouncing Back

Pahami profil lowongan kerja di Australia. Beberapa sektor, seperti pertambangan, memiliki masa pasang dan surut yang sangat kentara. Mengajukan lamaran kerja di sektor pertambangan saat sektor ini sedang booming memberi kemungkinan diterima yang lebih besar dibanding melamar saat sektor ini sedang surut.

Yang cukup berbeda dibanding Indonesia, tingkat kebutuhan industri sangat tercermin di dunia pendidikan. Ketika industri pertambangan surut, minat mahasiswa terhadap jurusan tersebut juga sangat berkurang. Hal ini berbeda dibanding Indonesia dimana minat terhadap satu jurusan relatif tetap dari tahun ke tahun, bagaimana pun tingkat penyerapan tenaga kerja pada industri terkait.

Tapi, justru inilah peluang bagi pekerja asing, termasuk dari Indonesia. Karena para mahasiswa Australia sangat melihat tren industri, mereka kadang tidak bisa keep up saat suatu industri bouncing back (booming lagi setelah sempat surut). Saat industri pertambangan di menggeliat lagi beberapa tahun lalu, kata Agus, mahasiswa Australia yang belajar dan lulus dari jurusna tersebut kurang dari 100 orang di seluruh Australia. Inilah kesempatan bagi pekerja asing, seperti dari Indonesia.

Jangan Sakiti Atasan yang Menyakiti Kita

Banyak orang direkrut bukan semata-mata karena kemampuannya, namun karena ia kenal dengan seseorang di perusahaan yang ia tuju. Ini tidak serta merta nepotisme, namun lebih mencerminkan pentingnya “keamanan” dan “keterpercayaan” di benak calon employer. Ketika dihadapkan dengan dua pelamar yang sama-sama berkualifikasi bagus, seorang calon atasan cenderung akan memilih calon yang dirasanya “lebih dikenal”. Ini memberi “rasa aman” yang lebih besar di benaknya. “Kenal” di sini tentu bukan hanya kenal baik secara personal, namun paling tidak sudah dikenal oleh lingkaran orang lain yang dipercayai oleh calon employer. Dalam konteks ini, jejaring dan referensi menjadi sangat penting.

Karena itu, jangan sakiti atasan, rekan kerja, maupun perusahaan meski mungkin mereka telah menyakiti kita. Nasihat ini bukan hanya membuat kita menjadi lebih tenteram secara psikologis, namun berguna bagi pencarian kerja selanjutnya.

“Dunia kerja itu tampak luas, namun sebenarnya sempit. Sangat mungkin petinggi di perusahaan yang kita lamar kenal dengan mantan atasan atau kolega kita. Menyakiti, atau membalas menyakiti atasan atau rekan kerja kita berpotensi merusak reputasi kita di mata calon employer,” pesan Agus.

Cerdas Beradaptasi

Bekerja di luar negeri memiliki banyak tantangan. Selain kemampuan teknis yang memadai, kita harus pula menyiapkan diri menghadapi kendala bahasa, budaya, bahkan terkadang termasuk rasisme.

Mengerti Bahasa Inggris tidak menjamin kita langsung mulus dalam bekerja di negara yang juga berbahasa Inggris. Ini karena ada faktor aksen. Nah, Australia, terkenal dengan aksennya yang unik. Makin ke pedalaman, atau ke kota-kota kecil, makin kental aksen ini. Dalam istilah Agus, mereka “bicara tanpa membuka mulut”. Kita dipaksa untuk memahami percakapan dalam bahasa yang menurut kita sudah kita pahami.

Karena bahasa adalah alat komunikasi utama, maka kendala Bahasa bisa sangat menentukan. Agus mengalaminya langsung. Pernah produksi batu bara di tempatnya bekerja dihentikan selama 2 jam karena salah paham terkait Bahasa. Agus meminta tambahan batu bara (coal), sementara rekannya di seberang sana mendengarnya sebagai lubang (hole) dalam conveyor belt. Alhasil, si rekan menghentikan conveyor belt untuk memeriksa apakah benar ada hole (lubang) itu.

Selain Bahasa, budaya juga harus diperhatikan. Kita hidup dan besar dengan budaya kita yang bisa jadi sangat berbeda dengan budaya Australia. Di sini adaptasi dan penghormatan kepada budaya setempat menjadi kunci.

“Bila kita dilihat mau mempeljari budaya warga setempat dan menghormatinya, mereka pun akan belajar budaya kita dan menghomatinya,” kata Agus.

Karena Agus mau belajar slang-slang Australia dan tidak menutup diri, rekan-rekan kerjanya yang asli Australia justru menghormati pilihan dan identitasnya. “Misalnya, mereka tak lagi memaksa saya meminum minuman beralkohol sekali pun kami sama-sama ke bar,” kata Agus. Kemauan Agus menemani rekan-rekannya ke bar adalah bagian dari penghormatan Agus, dan rekan-rekannya balik menghormati dia dengan membiarkan ia minum jus jeruk ketika yang lain ngebir. (Supardi) 

Berburu Rumah, H2C yang Mengasyikkan

Foto: Situs allhomes.com.au dan realestate.com.au
Situs-situs properti menyajikan info lengkap tentang calon rumah yang bisa diinspeksi.

Tiga minggu di pertengahan tahun ini saya sibuk. Sejumlah aktivitas non kuliah menyita waktu, tenaga, dan perhatian. Saya ceritakan satu di antaranya: mencari akomodasi untuk keluarga.

Anak saya tiga, yang pertama menginjak kelas 1 SMP, yang kedua kelas 3 SD. Perempuan dan laki-laki. Tentu paling oke bila kami bisa mendapatkan unit dengan 3 kamar hingga kedua anak kami yang mulai besar masing-masing punya kamar. Namun bila ternyata kami hanya mendapat unit dengan
2 kamar, itu pun tak mengapa. Toh rumah kami di Indonesia juga hanya 2 kamar, jadi tidak ada penurunan.

Ada dua cara mencari rumah di Queensland. Pertama, melalui situs-situs properti seperti Allhomes (https://www.allhomes.com.au/), Domain (https://www.domain.com.au/), Realestate (https://www.realestate.com.au/) dan lainnya. Melalui situs-situs ini kita bisa memilih tipe rumah yang diinginkan (rumah tapak, townhousegranny flatshared house, hingga unit). Bila dalam satu bangunan terdiri dari dua rumah atau lebih, maka masing-masing rumah itu disebut unit. Unit bisa terletak di sebuah bangunan yg hanya terdiri dari 2 rumah, bisa juga merupakan bagian dari apartemen sekian lantai dengan puluhan unit. Satu unit biasanya terdiri dari kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan ruang tengah. Fasilitas yang biasanya ada namun tidak selalu ada adalah garasi. Penghuni unit-unit tanpa garasi bisa memarkir kendaraan mereka di pinggir jalan atau mengurus izin parkir di jalan dekat unit kita berada. Tempat menjemur pakaian biasanya merupakan fasilitas bersama untuk semua penghuni unit dalam bangunan yang sama.

Yang juga perlu diperhatikan adalah apakah kamar mandi menyatu dengan toilet, atau terpisah. Tentu yang terpisah lebih baik, utamanya di saat-saat “genting”. Bila kamar mandi dan toilet menyatu, saat kita sedang kebelet padahal ada anggota keluarga lain yang sedang mandi, mau tak mau salah satunya harus mengalah.

Oya, apa pun jenis akomodasinya, biasanya terdiri dari 2 jenis: furnished dan unfurnished. Akomodasi furnished, artinya kita tinggal bawa badan. Di sini perabotan kunci yg dikenal dengan sebutan white goods (kompor, kulkas, dan mesin cuci) sudah disediakan, demikian pula dipan dan kasur beserta bantalnya, mebeler seperti meja dan kursi makan, sofa ruang tengah, bahkan ada juga yang menyediakan tivi dan heater. Bila akomodasi yang disewa unfurnished, biasanya kosong melompong. Semua perabot yang diperlukan harus disediakan sendiri.

Masing-masing pilihan ada kelebihan dan kelemahannya. Kelebihan akomodasi furnishedtentunya karena tidak perlu susah-susah memikirkan cara mendapatkan perabot dan tidak perlu keluar dana untuk membelinya. Kelemahannya, semua barang yg disediakan tersebut harus tetap dalam kondisi baik saat kita meninggalkan akomodasi tersebut. Bila ada yang rusak, siap-siap uang jaminan (bond) dipotong.

Akomodasi unfurnished juga memiliki kelebihan. Memang, kita keluar dana dan tenaga untuk melengkapi, namun biasanya harga sewa yang kita bayar lebih murah. Selain itu, banyak orang-orang beruntung yang mendapat limpahan barang dari kawan-kawan yang pulang. Biasanya tak perlu bayar, hanya perlu mengangkutnya. Kalaupun bayar, biasanya harganya miring. Bisa juga beli baru, beli second, dikasih, atau hasil berburu saat kerbside.

Kerbside adalah satu periode, biasanya seminggu, dimana warga sebuah suburbdiperbolehkan untuk meletakkan barang-barangnya yang sudah tidak dipakai lagi di jalan depan rumahnya tanpa dikenai denda. Barang-barang  ini boleh diambil siapa pun. Kalau beruntung, kita bisa mendapatkan perabot yg dibutuhkan secara gratis. Ada tivi, monitor, meja, kursi, sofa, kasur, kipas angin, selimut, buku-buku, alat dapur dan lainnya. Bahkan ada orang yang kerjaannya berburu barang-barang di kerbside dan menjualnya di gumtree, salah satu situs jual beli online.

Dalam mencari rumah, strategi masing-masing orang berbeda. Sebagian teman memilih mengajukan aplikasi satu-satu. Artinya, mereka mencari rumah yang benar-benar mereka incar, lalu mengajukan inspeksi sampai apply. Bila gagal, barulah mereka akan apply untuk rumah sasaran yang kedua dan seterusnya. Alasannya, enggan buang banyak waktu untuk inspeksi dan mengisi data aplikasi. Saya sebaliknya. Bagi saya rumah itu penting. Yah, bagi siapa saja rumah pasti pentinglah, hahaha. Saya juga agak susah memilih. Dan, yang pasti, belum tentu aplikasi saya diterima. Sebagai penerima beasiswa dan tidak ada pendapatan lain, secara finansial saya tergolong mepet. Karena itu, saya mengajukan aplikasi untuk inspeksi bagi 6 rumah. Saya menikmati semua prosesnya. Browsing lalu membandingkan kondisi dan fasilitas rumah serta harga sewanya merupakan keasyikan tersendiri bagi saya. Saya agak susah memutuskan. Bahkan setelah inspeksi pun, yakni waktu sekitar 10 menit dimana calon pembeli diberi kesempatan melihat seluruh sudut rumah dan bertanya pada agen yg menemani, saya tetap sulit memilih. Karena agak susah mempercayai perasaan saya, saya sampai membuat tabel perbandingan. Saya tulis masing-masing alamat rumah yang saya inspeksi. Ke kanan, saya buat kolom-kolom yg terdiri dari aspek-aspek yang saya anggap penting. Mislanya: jarak ke kampus, jarak ke sekolah anak, jarak ke tempat berbelanja, ketersediaan transportasi umum, harga sewa, dekat atau jauh dari teman-teman Indonesia, kamar mandi menyatu dengan toilet atau terpisah, ada garasi atau tidak, dan lainnya. Masing-masing aspek saya beri skor. Dari situ saya merasa membuat keputusan yg objektif.

Berdasar tabel itu, rumah A yg memiliki nilai paling tinggi, diikuti rumah B. Rumah c, karena memiliki nilai yg lebih rendah, langsung saya hapus dari daftar. Tiga yang lain saya lanjutkan ke tahap aplikasi. Tentu Anda memiliki strategi yang lain lagi. Selamat berburu akomodasi. Biasanya memang membuat harap-harap cemas, namun mengasyikkan. (Supardi)