Indonesians in Queensland

Kuliah Sambil Menyekolahkan Anak (1)

This is my body. I have the right to wear anything I want,” kata Nazla. Radies Purbo, sang ayah, sesaat hanya bisa menatap gadis kecilnya yang saat itu masih kelas 2 SD. Ternyata tidak mudah meyakinkan anaknya untuk memakai jilbab. Radies tersentak. Tiba-tiba ia menyadari perbedaan nilai-nilai Islam dan Barat tidak mudah dikomunikasikan, apalagi kepada anak-anak.

Oleh: Achmad supardi*

Sikap Nazla yang menolak memakai jilbab adalah bukti kuatnya sosialisasi nilai-nilai Barat yang bertumpu pada kebebasan individu. Bagi Radies dan istri yang ingin menerapkan nilai-nilai Islam, ini tidak mudah.

“Di sekolah ia diajarkan bahwa tubuh dia adalah hak dia. Dia yang menentukan apa yang akan terjadi pada tubuhnya, termasuk dalam hal pemilihan pakaian. Sementara kami sebagai orang Islam memiliki nilai lain lagi. Butuh usaha lebih dan waktu untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak,” kata peraih beasiswa Australia Awards ini.

Dengan tantangan yang tidak mudah, mengapa Radies dan banyak pelajar Indonesia lainnya membawa anak-anak mereka ke Australia?

“Saya ingin anak saya mendapatkan pengalaman seperti yang saya dapatkan. Saya ingin mereka merasakan journey yang sama dengan saya,” kata Radies.

Hal ini diamini Rustanto, mahasiswa S3 di Queensland University of Technology. Dia ingin anak-anaknya terbiasa beradaptasi dengan kehidupan yang benar-benar baru dan memiliki kemampuan mengatasi stress.

“Selain supaya kami sama-sama tenang. Saya tenang, istri dan anak-anak pun tenang kalau kami bersama,” katnya.

Foto: Dok. pribadi Rustanto
Putri dan putra Rustanto berusaha tidak berkurang hafalan Al Qur’an-nya sambil tetap menikmati aktivitas lain di Australia.

Keuntungan bersekolah di Australia adalah mendapatkan pendidikan berkualitas internasional dengan biaya yang sangat minimal. Bersekolah di sekolah negeri, baik elementary school (SD) maupun high school (SMP dan SMA) pada dasarnya tidak bayar. Orangtua baru mengeluarkan dana bila ada kegiatan ke luar atau aktivitas non rutin.

Hal yang sama disampaikan Agus yang mendampingi istrinya belajar di Adelaide dan Brisbane, beberapa tahun lalu. Kini ia sendiri yang kuliah di Brisbane. Alasan utama ia dan istrinya membawa anak-anaknya adalah untuk mendapat kesempatan belajar di sekolah berkualitas internasional dengan biaya minimal. Kualitas yang dimaksud Agus mencakup fasilitas dan kualitas pengajaran.

Niat serupa melatarbelakangi Renata Sadjad dan suaminya membawa serta putri mereka, Aqila ke Australia sebelum ia berusia 5 tahun yang merupakan the golden ages. Aqila dimasukkan ke Campus Kindergarten (setara TK A di Indonesia).

“Sesuai dengan Kerangka Nasional Pendidikan Usia Dini Australia, Aqila belajar untuk belonging, being, and becoming,” kata Renata, Minggu (17/).

Di sekolah potensi Aqila benar-benar dikembangkan. Renagta bisa diskusi dengan guru kapan saja mengenai aspek perkembangan yang menjadi perhatian mereka, baik kemampuan sosial, komunikasi, motorik kasar, dan lainnya.

Meskipun kualitas Pendidikan baik, bersekolah di tempat baru bukan berarti tanpa kendala. Salah satunya dialami putri Rustanto, Hilya Idhar Mumtaz. Di awal-awal masuk ke kelas 5 Ironside State School ia selalu murung. Sepertinya ia mengalami ketakutan menghadapi lingkungan baru.

“Saya kuatkan ia tiap hari. Saya katakan bila ia mampu mengatasi hal ini, ia akan sukses mengatasi kendala berbeda di tempat lain nantinya,” kata Rustanto. Ia bersyukur sekolah sangat kooperatif. Mereka mencium kekhawatiran yang dialami Hilya dan membantunya mengatasinya. Sekolah mencarikan teman sesala asal Indonesia bagi Hilya. “Saya lihat wajah anak saya langsung berbinar saat diperkenalkan dengan teman sesame asal Indonesia,” kata pegawai negeri di Dirjen Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan ini.

Sekolah juga tidak memaksa Hilya untuk langsung tancap gas memahami pelajaran saat itu. Prioritas sekolah adalah membuat Hilya merasa nyaman dulu. Perkembangan sosial, psikologis dan akademis diinformasikan ke Rustanto dan istrinya melalui rapat setiap term.

Benturan Nilai

Tantangan bukan hanya lingkungan baru, namun juga nilai-nilai baru. Perbedaan nilai-nilai Islam, juga nilai tradisional Indonesia dengan nilai Barat yang dominan di Australia memberikan pekerjaan rumah tersendiri bagi para orangtua. Misalnya, anak-anaknya mendapatkan informasi bahwa gurunya di sekolah mengatakan “We don’t need to be married to have a baby” (kita tidak perlu menikah untuk memiliki bayi). Padahal, dalam Islam dan dalam norma Indonesia secara umum, pernikahan adalah gerbang wajib bagi hubungan suami istri yang memungkinkan terjadinya kehamilan.

“Nah, ini rentetannya tentu kepada informasi tentang seks, pernikahan, rumah tangga. Tantangannya adalah bagaimana menyampaikan hal-hal tersebut kepada anak-anak dalam bingkai nilai Islam yang berbeda dari yang mereka dengar di sekolah,” kata Radies yang saat ini studi S3 di Griffith University.

Tantangan lainnya adalah memudarnya tata krama dan kesopanan ala Indonesia. Radies, misalnya, dididik dalam keluarga dimana membantah kepada orangtua itu sama sekali tak pernah terpikirkan. Kini, anak-anaknya memiliki kebebasan untuk mendebat pendapatnya. “Saat ini kita tidak bisa otoriter. Kita harus menjelaskan secara rasional,” katanya.

Strategi Radies saat ini adalah menjawab semua pertanyaan sampai anaknya paham. Sampai tidak ada pertanyaan why lagi. Meski demikian, ada juga hal-hal dimana ia tidak membuka pintu tawar menawar. “Misalnya tentang sholat dan mengaji. Saya beri jadwal sholat dan mereka harus ikut,” kata Radies.

Tiap selesai sholat maghrib mereka mengaji dan menyetor hafalan Al Qur’an. “Sesekali saya berikan materi keagamaan. Biasanya saat akhir pekan saya berikan taujih (ceramah agama),” kata Radies.

Seperti sebagian mahasiswa Muslim lain, Radies juga memasukkan anak-anaknya ke Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Indonesian Islamic Society of Brisbane (IISB). Namun, durasi mengaji yang hanya seminggu sekali ia rasa belum cukup. “Karena itu kami usahakan mengaji tiap hari. Sebelum mengaji dan sholat anak-anak tidak boleh pegang Ipad atau makan malam,” ujar Radies.

Kendala yang sama dihadapi Rivan. Saat di Indonesia, anaknya bersekolah di Sekolah Dasar Islam Terpadu dengan muatan akhlak keislaman yang tinggi dan hafalan surat-surat Al Qur’an. Di sekolah memang ada pelajaran agama Islam setiap Jumat, namun Rivan merasa masih kurang.

“Solusinya ya mengaji di rumah meskipun tidak seintensif di Indonesia dulu,” kataya.

Keengganan anak untuk mengaji memang merupakan kendala yang dihadapi para orangtua Muslim. Agus memakluminya karena lingkungan kuran mendukung. Jalan keluarnya dengan diajar sendiri, selain dimasukkan ke TPA yang dikelola masyarakat Muslim Indonesia.

Dua anak Agus dulu bersekolah di Ironside State School. Anak pertamanya, Fajrul sekolah mulai kelas 5 sampai kelas 9, sementara anak kedua, Ghinan, bersekolah dari kelas 2 hingga kelas 6. Anak ketiganya, Zada, belajar di UQ Playschool, Ironside dan sempat meraskaan kelas 1 di Ironside states School.

Sementara, Rustanto menghadapi kendala berbeda. Dua anaknya berjilbab, yakni Hilya dan kakaknya, Hajar Iffatul Karimah. Pernah suatu hari jilbab anaknya ditarik-tarik oleh temannya. Bukan berniat mem-bully sebenarnya, namun murni keingintahuan khas anak-anaknya. Buktinya yang menarik jilbab anaknya juga bertanya apakah Hajar dan Hilya tetap berjilbab saat mandi. (bersambung)

*Penulis adalah dosen di Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Presiden, Cikarang, saat ini menjadi Ph.D Student di The University of Queensland dengan beasiswa dari LPDP.

 

Kuliah Sambil Menyekolahkan Anak (2-Habis)

Memperdalam Bahasa Inggris dengan nyaris sepenuhnya gratis adalah alasan lain mengapa para mahasiswa Indonesia membawa anak-anak mereka bersekolah di Australia. Bonusnya, pengembangan diri bagi orangtua yang sama gratisnya.

Oleh: Achmad Supardi*

“Bayangkan, kalau saya masukkan anak saya di sekolah internasional dekat tempat tinggal saya di Ciputat, biayanya mahal sekali. Uang masuknya Rp 200 juta, sementara SPP-nya Rp 20 juta per bulan. Tentu tak terjangkau oleh saya,” kata Radies Purbo, pegawai negeri di Dirjen Perimbangan Keuangan, Departemen Keuangan RI.

Hal yang sama diungkapkan Agus yang saat ini menjadi mahasiswa S3 di Queensland University of Technology. “Di Indonesia, untuk mendapatkan kecakapan berbahasa Inggris orangtua harus mengeluarkan biaya yang sangat besar.  Dengan membawa mereka ke Australia, secara alamiah mereka belajar berbahasa Inggris,” kata Agus.

“Anak-anak itu daya tangkapnya luar biasa. Sebentar saja mereka sudah fasih berbahasa Inggris,” kata Radies. Anaknya yang saat ini masih di kindergarten (TK), Khayra, sudah bisa berkomunikasi dengan lancar dalam Bahasa Inggris. “Dia belajar dari YouTube dan Bersama kaka-kakanya,” ujarnya.

Foto: Dok. pribadi Radies Purbo
Radies dan keluarganya. Menyeimbangkan pemahaman Islam di tengah budaya Australia butuh energi dan strategi tersendiri.

Bukan hanya daya serap anak-anak yang masih sangat tinggi, faktor lainnya adalah fasilitasi oleh sekolah bagi anak-anak yang bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris. “Sekolah anak saya memberikan tambahan pelajaran Bahasa Inggris secara khusus. Mereka diberi teman pendamping untuk melatih berkomunikasi dalam Bahasa Inggris,” kata Agus, dosen di Universitas Pesantren Darul Ulum (Unipdu), Jombang.

Bila ada siswa yang mengalami kesulitan belajar atau menghadapi masalah seperti bullying, sekolah sudah memiliki saluran komunikasi khusus.

Kenyataan seperti diceritakan Agus dan Radies sangat melegakan Rivan, apalagi setelah ia melihat sendiri yang terjadi pada anaknya. Tadinya ia takut anaknya mengalami kesulitan beradaptasi dan memahami pelajaran yang disampaikan dalam Bahasa Inggris. Bagaimana pun di Indonesia dulu anak-anaknya berkomunikasi di keluarga maupun dengan teman dalam Bahasa Indonesia. Kini mereka harus berbahasa Inggris bukan hanya dalam kelas, namun juga dalam beragama aktivitas bersama teman-temannya.

“Syukurlah sekolah sekolah mempunyai cara untuk mendidik anak-anak yang memerlukan bantuan dalam berbahasa Inggris. Anak saya diberi kelas tambahan Bahasa Inggris untuk non-native speaker,” kata Rivan.

Kelas tambahan berlabel English Learning Development ini terbilang intensif, 3 jam setiap hari kecuali Jumat. Bisa dibayangkan berapa dana yang harus dikeluarkan Rivan untuk memasukkan anaknya ke lembaga kursus Bahasa Inggris seintensif itu di Bandung. “Di sini gratis,” katanya.

 

Menghargai Orang Lain

Hal lain yang tampak jelas adalah keberanian dan kemauan untuk menghargai orang lain. “Yang namanya minder itu tidak ada. Mereka berani dan biasa berhadapan dengan orang lain,” kata Radies.

Agus juga melihat anaknya belajar banyak tentang pembentukan karakter seperti kemandirian, menghargai sesama, kebersihan, rasional, dan kedisiplinan.

Ia menyadari bahwa tata karma ala Indonesia kurang mendapat tempat di sini, dan ia tidak terlalu khawatir. Baginya, kemampuan menghargai orang lain lebih penting. “Anak-anak di sini lebih menghargai orang lain meski kalau dipandang dari segi sopan santun Indonesia mungkin kurang,” kata Agus.

Ini juga yang melegakan Renata. Saat ini anaknya, Aqila, sedang sekolah di Ironside State School kelas Preparation. Di sini ada sistem pengumpulan poin. Bukan untuk prestasi akademis, tapi ketika seorang anak peduli sama temannya, mendengarkan gurunya, membantu di kelas, dan aspek-aspek lain yang pada dasarnya fokus pada pembangunan karakter.

“Sopan santun mengatakan please dan thank you menjadi prioritas. Anak-anak juga belajar bertanggung jawab dan mandiri,” kata Renata yang suaminya menempuh S3 di The University of Queensland dengan beasiswa Australia Awards.

Renata gembira melihat anaknya tumbuh menjadi sosok yang sabar. Ia membawa 35 puding ke sebuah acara yang ternyata dihadiri lebi dari 50 anak-anak. Renata pun mengatakan pada Aqila bahwa ada kemungkinan ia tidak mendapatkan pudding tersebut karena peserta lebih banyak dari pudingnya. Aqila menjawab, “It’s ok Mummy. You get what you get and you don’t get upset.”

“Saya cukup terpesona dengan jawabannya bahwa kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan kalau kita tidak dapat, kita tidak boleh marah atau sedih. Saat saya tanya darimana ia tahu itu, Aqila bilang dari gurunya di sekolah,” kata Renata.

Bukan hanya membangun karakter, sekolah juga peduli pada kepentingan masing-masing siswa, termasuk berkait dengan agamanya. Makanan halal disediakan bagi siswa yang memintanya. Anak-anak Radies boleh pulang lebih awal di hari Jumat agar bisa sholat Jumat, demikian pula di sekolah anak-anak Agus. Saat jam pelajaran agama Kristen, anak-anaknya diperbolehkan pindah ke laboratorium dengan didampingi seorang guru lain.

“Sekolah memberikan pelajaran agama Islam satu minggu sekali yang diisi oleh sukarelawan mahasiswa Muslim,” kata Agus.

Meskipun ada yang hilang, seperti suara adzan, namun ada hal lain sebagai gantinya. “Di sini mungkin kita akan merindukan suara adzan. Tapi setiap pagi kami dibangunkan oleh kicauan burung yang mulai berkicau dari subuh sampai terbit matahari,” kata Renata.

Supaya hafalan Al Qur’an anaknya tidak hilang, Rustanto harus mendisiplinkan dirinya sendiri juga. Setiap habis sholat subuh anak-anaknya setor hafalan. Kalau pun tidak bertambah, diharapkan hafalan mereka tidak berkurang. Sebelum datang ke Australia, putri sulungnya hafal 15 juz, putranya hafal 7 juz sementara putri bungsunya hafal 1 juz.

“Membangunkan untuk sholat subuh memang tidak mudah. Kami sebagai orangtua harus bangun jauh lebih awal karena membangunkan saja kadang butuh 30 menit,” katanya.

 

Haji dan Tawaran Pekerjaan

Bagi Radies, membawa keluarga bukanlah beban tambahan, namun justru mendatangkan rezeki. Dia mendapatkan pekerjaannya yang pertama sebagai cleaner di Spotless persis di hari saat ia menjemput keluarganya di Bandara Brisbane. “Saya semakin yakin bahwa rezeki keluarga itu sudah ditanggung oleh Alloh SWT,” katanya.

Belakangan ini Radies bekerja juga di Sullivan, sebagai cleaner di kompleks laboratorium. Pukul 2 dini hari sampai pukul 5 pagi ia bekerja di Sullivan, pagi hingga sekitar pukul 10.00 ia bekerja di Spotless di areal kampus The University of Queensland. “Saya bekerja sampai di dua tempat ini bukannya kemaruk atau apa. Saya ingin naik haji. Kalau bisa ONH plus Karena antrean untuk ONH biasa sangat lama. Takut umur tidak nututi. Saat pagi hari saya mantapkan niat untuk berhaji, sore harinya seorang teman menelpon mengabarkan adanya pekerjaan di tempat yang kedua ini. Niat kita sungguh didengar oleh Alloh SWT,” katanya.

Bukan hanya pekerjaan, ada juga bonus lain bagi mahasiswa di Australia dan keluarganya: banyaknya saluran-saluran pengembangan diri. Pasangan mahasiswa The University of Queensland (UQ) mendapatkan fasilitas kursus Bahasa Inggris gratis. Renata malah akgtif juga di Positive Parenting Program (Triple P) yang dilaksanakan Pemerintah Negara Bagian Queensland. Triple P adalah sebuah proram parenting yang dijalankan berdasarkan riset UQ selama 30 tahun terakhir.

“Orangtua bisa mengikuti online course gratis, seminar, juga group and personal counselinggratis dalam hal parenting. Alhamdulillah saat ini melalui Indonesian Islamic Society of Brisbane (IISB) saya bisa ikut training gratis untuk menjadi praktisi level 4 Triple P sehingga bisa memberikan one on one consultation untuk orangtua di Brisbane. Semoga ada kesempatan untuk bisa training level-level lainnya sehingga bisa memberikan pelayanan yang lebih banyak mengenai parenting bagi komunitas Indonesia di Queensland,” kata Renata. (*)

*Penulis adalah dosen di Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Presiden, Cikarang, saat ini menjadi Ph.D Student di The University of Queensland dengan beasiswa dari LPDP.