History

Sejarah Singkat IMCQ

Indonesian Muslim Centre of Queensland (IMCQ) resmi berdiri sejak delapan Agustus 2013. Menurut Iman Sobirin Partoredjo, sesepuh dan salah satu pendiri IMCQ, nama itu dipilih karena sudah terlalu banyak lembaga sejenis yang menggunakan nama Islamic Centre. “Empat pendiri di antaranya Kiki, Saya, Pak Tri, dan Pak Aris setuju nama itu,” ungkap Iman di sela-sela menghadiri Fund Rising Warung IMCQ, Ahad, 12 Agustus 2018, di Loganlea, Queensland.

Hamid Mawardi, atau yang lebih akrab disapa Kiki, membenarkan nama IMCQ memang hasil musyawarah para perintis. Mereka adalah Iman Partoredjo, Aris Winarno, Hendry Baikuni, Tri Yoso, dan dirinya. Kemudian dalam perkembangannya, mereka ini ditambah Febi Dwi Rahmadi, Budi Hartono, dan Indrawan Maryono, yang secara bersama-sama menjadi Komite IMCQ. “Saat itu dinamika dan perubahan kemasyarakan di Brisbane dan Australia pada umumnya begitu cepat, untuk mengimbanginya kehidupan keagamaan juga perlu ditingkatkan,” ujar Kiki ketika dihubungi secara terpisah. Salah satu upaya peningkatan itu adalah bagaimana kegiatan keagamaan bisa memiliki wadah, tempat berkumpul, dan menjadi pusat semua permasalahaan umat dibicarakan dan dicarikan solusinya.

Untuk diketahui, sebelum IMCQ berdiri, sudah ada organisasi ke-Islaman di Brisbane, salah satu yang cukup besar dan sudah ada di era 80-an adalah Indonesia Islamic Society of Brisbane (IISB). Begitu IMCQ berdiri, para pendiri memutuskan apakah mereka akan akan berdiri sendiri atau di bawah payung IISB. “Kita memutuskan berdiri sendiri. Tapi usaha kita demi IISB,” jelas Iman. Usaha yang dimaksud adalah bagaimana pada akhirnya umat Islam di Brisbane akhirnya bisa memiliki masjid sendiri. “Jadi fokus kita adalah mencari tempat, mendirikan masjid. Kita tidak menjadi tandingan IISB. Kita mendirikan ini hanya untuk mencari uang untuk mendirikan masjid. Kalau sudah jadi, nanti agar dimanfaatkan oleh IISB,” imbuh Iman lagi. Dengan demikian bidang garapan IISB dan IMCQ berbeda. IISB diharapkan bisa lebih fokus untuk kegiatan keislaman dan pembinaan Muslim Indonesia di Brisbane.

Presiden pertama IMCQ, Aris Winarno, ditunjuk mulai tahun 2012. Sebelum penunjukan itu, menurut Iman, dia mendatangi dirinya dengan maksud untuk membantu memfasilitasi rencana pendirian masjid. Kala itu Iman meminta Aris menemui Hendrajitno yang sudah berpengalaman dalam pendirian masjid, namun karena kesibukannya akhirnya dia mendelegasikan tugas itu kepada Aris. “Sejak itu Pak Aries yang mengadakan pertemuan, mengadakan rapat,” terang Iman, jebolan Exeter University yang pernah mengajar Bahasa Indonesia di Monash University dan University of Queensland.

Kira-kira setahun kemudian, saat Aris sudah paripurna tugasnya di Brisbane dan balik ke Indonesia, tugasnya digantikan oleh Kiki. Menurut pria yang hobi masak dan olahraga ini, selain untuk mendirikan masjid, IMCQ juga didirikan untuk memupuk dan menyebarluaskan nilai-nilai dan budaya Islam, bukan semata untuk komunitas Muslim tapi juga masyarakat pada umumnya. “Di samping itu, juga diharapkan berkontribusi dalam menghadirkan aktivitas ke-Islaman yg positif dan menjaga keharmonisam dengan budaya Australia yang multikultural,” papar Kiki yang mulai hijrah ke Australia sejak tahun 1979. Karena itu, tegasnya, tantangan IMCQ tidak mudah. “Di awal-awal setelah memiliki properti, kami menghadapi tantangan yang berat khususnya untuk mendapatkan izin sebagai Islamic Center,” papar Kiki. Properti yang dimaksud terletak di Rocklea, kira-kira 20 menit dari Kota Brisbane. Namun, kemudian properti ini dijual setelah  terjadi insiden vandalisme pada tahun 2014 dan sempat menjadi pemberitaan hangat pers lokal. Sejak saat itu, atas izin Dewan Kota Brisbane (BBC), kegiatan IMCQ dialihkan ke Kuraby Scout Hall, Wally Tate Park, yang berjarak sepelemparan batu dari Masjid Al Farook.

Sumber: Properti di Rocklea (Doc. IMCQ)

 

Dari tempat inilah, kegiatan IMCQ khususnya untuk penggalangan dana terus dilakukan. Di antaranya dengan penjualan lahan dimana pembeli mewakafkan beberapa meter lahan yang dibelinya untuk masjid. Penggalangan dana juga ditempuh dengan menggerakkan roda bisnis, seperti membuka warung IMCQ di Kuraby setiap akhir pekan. Juga melakukan Fund raising dengan menghadirkan dai kondang asal Bandung, Aa Gym.

Pada tahun 2014, Presiden Joko Widodo menghadiri perhelatan KTT G-20 di Brisbane. Setelah itu beliau menghadiri pertemuan dengan masyarakat Brisbane di kampus Queensland University of Technology. Dalam kesempatan itulah, mewakili masyrakat Muslim Indonesia, Iman menyampaikan kepada Bapak Presiden yang saat itu didampingi Menkeu Bambang Brojonegoro, ihwal kebutuhan 3000-an lebih masyarakat Muslim Indonesia untuk mendirikan masjid. Gayung bersambut, Pemerintah Indonesia kemudian secara resmi memberikan bantuan dana senilai kurang lebih Rp 5 miliar untuk pembangunan masjid itu.

Sumber: Properti di Loganlea (Doc. IMCQ)

 

Niat untuk memiliki properti yang representatif akhirnya terkabul. Tepatnya pada tanggal 17 Agusuts 2017, IMCQ berhasil membebaskan lahan seluas 4.500 meter persegi di 51 Station Road, Loganlea, Logan City. Lahan yang di atasnya juga sudah berdiri bangunan seluas 200-an mater persegi itu dibeli dengan dana kurang lebih Rp 13 miliar. Pembukaan lahan secara resmi dihadiri oleh Wakil Menteri Keuangan, Prof. Dr. Mardiasmo, MBA. Ikut hadir dalam acara itu hampir seluruh komite IMCQ disaksikan  President IISB, Yudi Suharto.