IMCQ Activities

Berlatih Membuat Sushi Halal

Photo: Asri
Ibu-ibu belajar membuat sushi di IMCQ.

Ibu-ibu tersenyum cerah. Potongan-potongan sushi cantik tersaji di depan mereka. Yang membuat mereka bahagia, susi-sushi itu hasil buatan mereka sendiri!

Ya, sushi-sushi cantik dan lezat itu adalah hasil dari demo pembuatan sushi yang digelar Divisi Fundraising Indonesian Muslim Community of Queensland (IMCQ). Lima belas peserta hadir dalam pelatihan bertempat di IMCQ, 51 Station road, Loganlea, Oktober lalu. Menurut Asri Djatnika, salah satu panitia acara ini, sebenarnya jumlah peserta lebih banyak lagi. “Kami terpaksa stop mengingat keterbatasan tempat,” katanya.

Besarnya antusiasme ibu-bu mengikuti pelatihan ini karena sushi merupakan bekal yang praktis bagi anak-anak dan suami mereka. Meski, tentu, tidak terlalu praktis cara pembuatannya.

“Insha Alloh pelatihan serupa akan digelar lagi, terutama karena masih banyak calon peserta yang berharap bisa ikutan,” katanya.

Ada dua tujuan utama pelatihan membuat sushi ini. Pertama, memberikan keterampilan kepada peserta, utamanya dalam membuat sushi yang halal. Maklum, di luaran masih ada sushi yang mengandung alkohol. “Tujuan kedua tentunya untuk memakmurkan IMCQ,” kata Ari Krisanti, koordinator demo sushi.

Dina, pemateri dalam pelatihan pembuatan sushi ini, merasa senang sekali bisa berbagi keterampilan. “Semoga ilmunya bermanfaat,” katanya. (Ulfa)

Photo: Asri
Sushi-sushi cantic kreasi peserta.

Mie Baso untuk Palu

Logan – Banyak cara untuk membantu korban gempa bumi di Palu, Sigi, Donggala dan sekitarnya. Nah, emak-emak yang aktif di Indonesian Muslim Community of Queensland (IMCQ) memilih cara yang lezat: berjualan mie baso dan pangsit.

Tercatat 10 emak-emak Brisbane dan sekitarnya berpartisipasi dalam program yang terbentuk berkat kerja sama dengan Humanesia, Jamaah Brisbane, dan Dompet Dhuafa Australia (DDA) ini. Mereka memasak dan berjualan mie baso dan pangsit yang hasilnya diserahkan untuk para korban gempa bumi dan tsunami di Palu dan sekitarnya. Hasilnya terbilang lumayan: 1.250 dollar Australia. Donasi disalurkan melalui DDA karena terpercaya dan sudah cukup lama bekerja sama dengan mereka.

Emak-emak ini mendistribusikan mie baso dan pangsit jualan mereka pada Jumat, 26 Oktober 2018 di empat titik, yakni Durack, Kuraby, Kampus Griffith University Mount Gravatt dan St. Lucia. (Ulfa)

Photo: ulfa
Mie baso dan pangsit lengkap nan lezat ini dijual dengan harga murah, 10 dolar Australia per porsi. Hasil penjualannya didonasikan untuk para korban gempa di Sulawesi Tengah.

 

Subuhan di IMCQ

Alloh SWT tahu segala yang disembunyikan

Photo: Supardi
Ustad Luthfi Hamidi menyampaikan tafsir Surat Al Mulk ayat 12-15.

Kuliah subuh menjadi salah satu agenda rutin Komunitas Muslim Indonesia di Queensland atau Indonesian Muslim Community of Queensland (IMCQ). Minggu, 14 Oktober 2018 lalu, giliran Ustad M. Luthfi Hamidi yang meneruskan kajian Al Qur’an tematik. Kali itu yang dibahas adalah isi surat Al Mulk ayat 12-15.
Beberapa poinnya adalah:
1. Orang-orang yang beriman akan tetap taat kepada Alloh SWT meski mereka tidak melihat Alloh SWT dan saat mereka sendirian sekali pun (tidak ada orang lain).
2. Alloh SWT maha mengetahui segala sesuatu, termasuk hal-hal yang tak terucap dan hanya terbersit saja dalam pikiran kita. Alloh mengetahui apa yang ada di hati manusia melebihi seorang ibu yang bisa mengira kondisi dan tingkah janin dalam kandungannya. Alloh SWT mengetahui hal-hal yang paling tersembunyi sekali pun karena IA-lah yang menciptakan mereka.
3. Alloh SWT adalah pencipta alam semesta dan IA mengetahui setiap detilnya. Daun yang jatuh IA ketahui dan mengetahui miliaran –mungkin triliunan— peristiwa di seantero jagad raya tidak membuat Alloh SWT menjadi sibuk karenanya.
4. Alloh SWT menjamin rezeki hamba-NYA seperti Ia menjamin rezeki burung-burung yang terbang mencari makana di pagi hari dan pulang ke sarangnya di saat petang selalu dalam keadaan kenyang.
5. Sebagian dari orang-orang yang dilindungi Alloh SWT di hari kiamat adalah lelaki yang menolak ajakan maksiat wanita yg berposisi tinggi dan rupawan serta lelaki yang beramal dengan tangan kanannya tanpa diketahui tangan kirinya. “Lelaki” di sini, menurut Ustad Luthfi, berarti “manusia” sebagaimana dalam Bahasa Inggris man memiliki arti yang sama dengan human. Dalam konteks kelompok yang pertama, rujukan utama godaan bukanlah jenis kelamin (lelaki digoda wanita), namun merujuk pada kemauan untuk menolak maksiat meski maksiat itu bersumber dari pihak yang secara umum dianggap lebih powerful darinya. (Supardi)

 

Journalistic Training

Know your topic, think about your audience

Photo: Hapsara Mahardhika
Achmad Supardi presented how to do a reporting (left); the trainees are all-ages.

Not all information can be qualified as news. News are information that have news values. These values are novelty (newly happen or newly known to public), significance (to public, at least to the audience of the news outlet), impact (to public), magnitude (usually related to number or scope, hence journalists deal with questions like how many people died because of an earthquake? How many suburbs were flooded in the recent flood?), conflict (be it to include individuals, governments, states, corporations, and other actors), uniqueness and/or bizarreness, human interest, and prominence (well, star power does exist).

News values will determine whether a news is worth publishing, be it immediately or later, or not at all. So, how to determine whether an event is significant enough to report?

“Think about your audience. Is it significant for your audience?” Achmad Supardi, the trainer for the Journalistic Training at IMCQ, said.

Besides the news values, there is another quality distinguishes news item from the mere information: verification. News item is a verified information.

The second session of the training on Sunday, 14 October 2018 was about reporting. “Reporting is the activity of searching, verifying and disseminating or publishing news item(s),” said Achmad.

There are 6 steps in reporting, namely developing ideas; deciding on what event or issue that we want to attend or write; doing preliminary research about the event/issue; do the actual reporting; writing; and finally, publishing the story.

“When we do the reporting, make sure that we use also our eyes. Observe. Don’t rely only on what people say. Verify all the data that you get and interview the correct news sources,” said Achmad, a former journalist with Surabaya Post daily.

There are four levels of news sources. First, primary news sources (victim, perpetrator, and witness of an event). Second, authoritative news sources (anyone eligible to comment on an event/issue because of their legal or structural position related to the event/issue). Third, competent news sources (a person who is eligible to comment on an issue/event because of his/her expertise on the matter). Fourth, the general public (vox populi) who is eligible to comment on any issue related to their well-being or interest.

The ideas for news story can be originated from scheduled agenda (the anniversary of a city, a presidential campaign period, a sporting event); press conference; press release; news report from media (including our competitor); and of course our own agenda.

Before “going to the field”, journalist needs to do a preliminary investigation and make up his/her mind about what to seek, who to ask/confirm (and how to contact them), how to go there, and what angle best to present the story.

Usually, interview is always one important method of gaining information about an event/issue. Before doing an interview, we need to know better our news source (including his/her temper), understand the topic, prepare 2 to 3 key questions, and get the equipment ready.

During an interview, it is important to be punctual, dress accordingly, ice-break the conversation. “Don’t forget to probe any answers. Don’t be easily satisfied with the answers that we get,” said Achmad who is now teaching at the Communication Department, President University, Cikarang, Indonesia.

Before concluding the interview, check the materials. Is all fine? Do make an agreement to contact the source should new development surfaces.

One final step before disseminating a news story is, of course, to write it. Here we need to utilize the journalistic language which has these following characteristics: direct, concise, treat people (including the news sources) equally, avoid jargons or technical terms, coherent, use foreign and/or local languages only when we need it, and write in such a way that do not presume the audience as dumb or know everything. (Hapsara Mahardhika)

 

Dibuka, Kelas Tahfidz di IMCQ

Foto: Edy Wahyu Susilo
Ustad Kari Shab

Jangan lupa, ada yang baru di IMCQ, besok!

Ya, mulai Sabtu, 20 Oktober 2018 besok, aka nada kelas tahfidz dipandu Ustad Kari Shab, seorang hafidz yang selama ini menjadi guru tahfidz di Masjid Kuraby. Ia berkenan menjadi imam sholat subuh di IMCQ setiap Sabtu dan berlanjut mengajar tahfidz di tempat yang sama.

Ustad Kari Shab telah melahirkan puluhan khuffadz di Bisbane selama kurang lebih 20 tahun berdakwah di Australia. Anda berminat bergabung? (*)

Nikmati Masakan Indonesia, Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa

Foto: Dok. Ani Apton
Salah satu anggota tim survei tiba untuk membangun sarana air bersih bantuan IMCQ bagi para korban gempa di Palu.
Foto. Yudi Suharto
Paket nasi goreng dalam penggalangan dana bagi korban gempa Sulawesi Tengah di Masjid Moorooka, Jumat, 12 Oktober 2018.
Foto. Yudi Suharto
Para relawan Indonesia melayani para jamaah yang berdonasi dengan membeli masakan khas Indonesia.

Logan – Banyak mata di seluruh dunia terbeliak kaget. Mereka tak pernah menyangka pemukiman, lengkap dengan rumah dan beragam gedung lain di atasnya, terombang-ambing seperti rakit di atas sungai berarus deras. Hanya beberapa detik, memang, karena setelah itu semua bangunan rata dengan tanah, sebagian terhisap lalu tertimbun di dalamnya. Inilah liquefaction yang terjadi dalam rangkaian gempa bumi dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala (Sulawesi Tengah, Indonesia), 28 September 2018 lalu. Bencana alam ini menimbulkan ribuan korban jiwa, sementara puluhan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal.

Meski demikian, duka bukanlah satu-satunya yang tersisa. Warga Indonesia di Queensland, misalnya, bahu membahu mengumpulkan donasi untuk para korban. Salah satunya digelar hari ini, Jumat, 19 Oktober 2018 di Masjid Logan. Jamaah sholat Jumat akan menjumpai beberapa menu kuliner Indonesia yang dikomandoi Ani Apton. Hasil penjualan akan disalurkan untuk para korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Masjid Moorooka

Sebelumnya, penggalangan donasi yang sama dilakukan di Masjid Moorooka, Brisbane, Jumat, 12 Oktober 2018. Masjid yang biasanya dipadati jamaah keturunan Afrika, tiba-tiba bernuansa Indonesia. Sedap aroma nasi goreng menguar dari paket-paket yang terhampar di meja.

Nasi goreng itu adalah produk amal hasil kolaborasi Indonesian Muslim Community of Queensland (IMCQ), Indonesian Islamic Society of Brisbane (IISB) bekerja sama dengan Komunitas Muslim Moorooka dan para relawan lain yang melakukan pengumpulan dana untuk disalurkan kepada korban bencana di Sulawesi Tengah. Antusiasme para jamaah sangat membuat haru. Sekitar 5.000 dollar Australia terhimpun dalam waktu kurang dari 1 jam dari penjualan nasi goreng dan makanan lain maupun donasi langsung.

Momentum ini juga dijadikan ajang mengenang memori indah beberapa sahabat Muslim Afrika ketika tinggal di Indonesia. Sebagain dari mereka bahkan fasih berbahasa Indonesia. Ada yang pernah studi dan bekerja di Indonesia. Mereka senang tinggal di Indonesia dan kangen kembali ke sana. (Dharmawan Atmoko, Supardi)

 

Tak Berkedip Mengikuti Gerakan Master Kung Fu

Foto-foto: Ulfa
Jason mengarahkan peserta melakukan gerakan yang benar (foto kiri); Jason memberikan penjelasan dasar-sadar memegang pedang.

Loganlea – Semua mata tertuju ke Jason King. Tampak wajah-wajah itu geregetan karena pandangan mata mereka tak mampu mengikuti gerakan ruyung (double stick) yang melesat sangat cepat di tangan Jason. Segera setelah Jason menghentikan gerakannya, wajah-wajah yang dari tadi serius memperhatikan, mulai mengendur. Sebagian menghela napas.

Belum berakhir kekaguman anak-anak terhadap kelihaian Jason memainkan ruyung, praktisi kung fu ini kembali membuat mereka takjub dengan gerakan-gerakan pedangnya. Dobel pula pedangnya.

Anak-anak dan orangtua mereka antusias mengikuti arahan Jason. Mereka mempelajari sejumlah gerakan dasar kung fu dalam Kung Fu Demo gelaran Indonesian Muslim Community of Queensland (IMCQ) di markas mereka, Minggu, 7 Oktober 2018 lalu. Sebagian demo digelar di ruangan utama center, semebagian lagi digelar di halaman center yang luas.

Cruz (7) dan adiknya, Noah (5) mengaku senang sekali mengikui kegiatan ini. “We had a great time,“ kata mereka. (Ulfa, Supardi)

Perlu Resep Berbahasa Inggris

Foto: Ulfa. Peserta menunjukkan donat buatannya (kanan), instruktur mempraktikkan cara menggoreng donat yang tepat.

Demo Donat Kampung

Loganlea – Bisa jadi, donat adalah salah satu kudapan yang paling dikenal di seantero dunia. Topping-nya bisa macam-macam. Bahan dasarnya pun tak melulu terigu. Ada donat kentang, misalnya.  Nah, supaya tidak selalu makan donat buatan orang lain, IMCQ menggelar kursus masak singkat bertajuk “Demo Donat Kampung”.

Enam belas peserta –termasuk 7 anak-anak—hadir di markas IMCQ di Loganlea, Sabtu (6/10). Dipandu Silvia Rinzani, peserta antusias memperhatikan dan mempraktikkan langkah-langkah yang disarankan Silvia.

Bagian menghias donat sangat disukai peserta. Melihat orang lain serius menghias donatnya, peserta jadi terpacu. “The best part was decorating it and watching everyone trying to perfect theirs too,” kata Deshinta Nuryana Brown.

Hal yang sama disampaikan peserta lain, Nanik. “Membuat donat ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan sebelumnya. Instrukturnya ramah dan sangat membantu,” katanya.

Masukan yang diberikan peserta di antaranya tentang perlunya menyediakan resep dalam Bahasa Inggris bagi mereka yang tidak familiar dengan Bahasa Indonesia. Satu hal lagi, “Bisakah kami membawa pulang lebih banyak donat ke rumah”” tanya Fatimah dan Ali. “Keluarga kami sangat menyukainya,” lanjut mereka. (Ulfa, Supardi)

Ajang Jamaah Berbagi Art Baking Skill

Foto: Ulfa. seornag peserta menunjukkan cupcake yang didekornya (kiri); peserta lain dipandu mencampur bahan untuk brownies.

Deco Cupcakes and Brownies Demo

Loganlea — Siapa bilang  memakmurkan IMCQ hanya melalui kajian dan sholat jamaah? Divisi Bisnis IMCQ, Dwi Ulfa, punya cara tersendiri untuk menyemarakkan kantor IMCQ yang terus berbenah ini. Salah satunya dengan melakukan berbagai kegiatan kreatif pengisi liburan sekolah anak, seperti Deco Cupcakes and Brownies Demo yang digelar pada 29 September 2018 lalu. Sepuluh peserta dilatih oleh instruktur Hana dan Ari.

“Acara seperti ini insya Allah akan kami adakan lagi. Sudah ada beberapa yang meminta kami mengadakannya lagi,” kata Ulfa. Menurut Ulfa, kegiatan ini menjadi ajang berbagi pengetahuan dari para jamaah yang memiliki art baking skill kepada jamaah lainnya.

Anak-anak yang mengikuti kelas baking dan mendekorasi cup cake ini pun puas. “Senang bisa tahu caranya membuat brownies,” ujar Risah (11).

“Lebih   senang lagi karena saya juga bisa menghias cup cake sesuai keinginan dan hasilnya bisa   dibawa pulang,” lanjut putri pasangan Asri-Dicky ini.

Sementara itu,  kakak-adik Aleena (7) dan Fauzia (5) punya pengalaman serupa. “My experience at the cupcake decorating and brownies workshop were excellent. I got to do the icing in whatever way I want. I like making the brownies because it was fun and yummm…,” kata Aleena.

That was really fun and I want to do it again,” kata Fauzia.

Tak hanya anak-anak, orangtua mereka pun terkesan. Eliya Arifin, ibunda salah satu peserta berharap acara ini rutin diadakan. “Consistency is a key to sucess. Jangan on and off. Kalau bisa tiap liburan sekolah anak diadakan aktivitas buat liburan sekolah juga,” harapnya (Lutfi).